oleh

Ini Hak Jawab Anita, Korban Penganiayaan

Rubrikrakyat.com, Medan – Anita S. merupakan korban kasus penganiayaan memberikan hak jawab terkait pemberitaan yang dimuat berjudul “Soal Dugaan Penganiayaan, Sintua Joni Sihombing Bantah Keterangan Ketiga Saksi” Tertanggal Kamis, 26 Oktober 2021 lalu.

Anita membantah keterangan terdakwa sintua Jhoni Sihombing yang menyatakan tidak melakukan penganiayaan terhadap korban dan sebagai sintua sanggup berbohong.

Menurut Anita, jika diteliti dari CCTV kasus penganiayaan itu jelas ada. “Itu sebenarnya kalau diteliti dari CCTV, memang jarak pandang cctv itu ada keterbatasan. Pada saat saya dikeroyok oleh kawan2 joni juga jelas ada video. Saya dikeroyok dulu, sampai saya dipukul pakai bangku plastik,” ucap Anita, Rabu (3/11).

Namun kata Anita, dalam BAP oleh penyidik keterangan itu dihapus. Dia juga telah mempertanyakan hal ini ke penyidik. “Saya juga sudah pertanyakan, kenapa saya dikeroyok tidak ada di situ diulas. Itu kan bagian kronologis. Lalu penyidik mengatakan, itu nanti dikemukan di pengadilan di depan hakim,” terang Anita.

Anita juga membantah menyerang Jhoni. Dia mengaku mendatangi pria itu karena reaksi spontan tidak terima atas perlakuan Jhoni. “Alasan saya menyamperin dia, saya sebagai perempuan tidak terima karena pertama sebelumnya dia sudah buat Surat Perjanjian Damai sama saya. Sebelumnya (beberapa waktu lalu) Jhoni muncul tiba tiba dengan marah dan berkata ku cekik kau sambil dilakukannya. Kemudian ditarik oleh kawannya,” terang Anita.

Karenanya saya laporkan tapi karena permintaan ibu Pdt. Ester lewat telepon waktu itu minta tolong supaya tidak dilaporkan, akhirnya saya minta dibuat Surat Perjanjian Damai.

Isi dari surat perjanjian itu dibuat, Jhoni bersedia dihukum jika berbuat hal yang tidak menyenangkan.

“Namun ternyata dia melanggar dan bahkan korban lainnya pendeta Ester. Jelas dia seorang laki laki yang semena-mena terhadap perempuan,” beber Anita.

Lantas terjadilah peristiwa keributan di halaman Gereja HKBP Immanuel di Jalan Sei Brantas pada tanggal 18 Desember 2020. “Jadi saat berada di rumah dinas Pendeta. Saya disitu gak tega, saya juga marah. Jadi waktu saya beda pendapat, masa saya dilempar bungkus atau kardus sampah busuk oleh Jhoni,” ucap Anita.

Beda pendapat wajar tapi saya dilempar kotak bungkus sampah dan dipukul, siapapun tidak menerimanya.

Anita langsung menanyakan tindakan itu kepada Jhoni. “Makanya saya tanya kenapa kamu begitu. Kesalnya perempuan, marahnya perempuan apalah dayanya. Saya nyamperin dia. Bukan maksudnya mau menyiksa dia, apa daya perempuan,” terang Anita.

Anita mengaku mendatangi Jhoni waktu itu karena teringat kasus yang dialaminya beberapa waktu lalu.

“Jadi saya sebetulnya bukan mau mengapakan dia, teringat gitu, pertama sudah mencekik aku, sekarang kau lempar. Terang saja saya samperin dia, padahal waktu melempar kardus itu jelas loh cctv nya, bahkan dia membawanya mrmang mau diarahkan ke saya” jelas Anita.

“Bayangkan kalo bapak digitukan, mungkin bapak langsung main tangan kali,” sebutnya lagi.

Kedua, kata Anita, dirinya juga tidak terima atas sikap Jhoni, kenapa dia kayak gitu sama saya. Tiba-tiba spontan dia pukul saya ditendang kayak gitu. Saya merasakan amat kesakitan perut ini. Pada saat itu saya melaporkan ke polisi, sebelumnya saya sudah melaporkan ke keluarga.

“Dengan menahan rasa sakit dan dipapah saya berusaha ke polsek karena anjuran keluarga, ” terang Anita. Kemudian, Anita menerangkan dilakukan visum di RS Bina Kasih. Hasilnya ada luka memar di perut.

“Cuman yang saya gak terima, Jhony membantah ini, membohongi orang untuk apa?. Kalau hakim bertanya mau memberikan pintu maaf ? Saya maafkan tapi kalau nengok kelakuannya ini, apanya,” tegasnya.

“Pertama dia mau minta maaf kenapa sesudah di pengadilan, sehari2nya orang yang dia utus (ketua marga Sihombing kota Medan, bendahara Sihombing, kakak perempuannya) seharusnya dia yang datang langsung kan,” imbuhnya lagi.

Dalam pernyataannya, Anita menyatakan sebelumnya Jhony juga mengatakan bahwa dia sudah dipenjara 7x ( langsung perkataan Jhoni di dalam rumah dinas pendeta ) dan sudah dinyatakan bersalah dengan tahanan 1 bulan dan 2 bulan percobaan dalam kasus penganiayaan Pendeta Ester.

“Dua perempuan sudah dianiaya, ditambah lagi satu kasus Pencemaran Nama Baik dengan nomer LP/188/VII/2020/SUMUT/SPKT III tg 3 Juli 2020. Akankah dia kebal hukum?,” sebut Anita.

Anita juga mengaku saat ini masih mengalami trauma pasca kejadian itu.

“Jhoni bisa membantah tidak ada peristiwa dan tidak ada pemukulan justru itu mencerminkan siapa sebenarnya dia tapi jelas buktinya visum artinya dia memang berbuat. Lucunya Jhoni memutar balikan fakta dan membantahnya ,” urainya.

Anita juga membantah ada hubungan kekerabatan dengan terdakwa.

“Terus dia bawa-bawa kaitan, kata pengacaranya saya ada hubungan saudara, hubungan saudara itu sedarah. Saya tidak ada hubungan saudara sama dia dan kalau dibalikan, gak mungkin saudara dibikin begini (dianiaya). Jangan ngaku-ngaku saudara kalau saya sudah dibeginikan,” pungkasnya.

Dengan diterbitkannya hak jawab ini maka redaksi Rubrikrakyat.com juga meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas adanya pemberitaan tersebut.(ril)

Komentar

News Feed